Senin, 07 Januari 2019

Puisi EXO 1

Melihat jarimu menari di atas grand piano membuatku terpana
Punggung yang juga ikut bergerak sesuai irama, hatiku makin terpesona
Kemeja putih bersih memeluk tubuhmu yang hanya dapat kulihat punggungmu
Bukan main indahnya

Suara teriakan terdengar
Dari para pendambamu
Yang selalu memimpikanmu dalam tidurnya
Berangan agar kau adalah bagian hidupnya
Memberi semua yang mereka punya untuk orang tercinta
Yang selalu tersenyum indah
Dan menari wah di atas tanah

Kulitnya yang putih
Yang tak sebanding denganku
Ada rasa bahagia saat melihatnya dari layar kaca
Bermetamorfora menjadi candu
Membelenggu anganku agar selalu memikirkan tentangmu
Ada rasa sendu saat tau semua hanya angan kelabu

Tapi apalah daya diriku
Yang telah terhipnotis oleh suaramu
Oleh sikap mempesonamu di alam semu
Diriku mengikuti gerak tubuhmu
Mengeluarkan suara sepertimu
Berharap ada sesuatu yang tak ku tahu
Sebuah mimpi
Ya..
Hanya mimpi
Ketika diriku ingin bertemu denganmu
.
.
.
.
Saat engkau bawa diriku terbang
Menuju dunia lain
Negeri indah dengan segala yang ada di dalamnya
Suatu kebahagiaan terpancar dari matamu, aku bahagia di dalamanya
Bukan uang, bukan tahta
Kau mengajakku bermain dengan impian
Aku terbang bebas di sana
Mengambnag di udara
Tanpa sayap melekat
Aku berlari

Tanpa peluh, dan lelah



Magetan, Baekhyun (EXO Luxion in Seoul) dan EXO-Peterpan. 11 Novwmber 2018 

Insan Bermimpi

Insan yang penuh mimpi
Sederhana namun bermakna
Tau akan cinta
Paham sedalamnya

Cinta mempermainkannya
Membuatnya tak lagi menjamahnya
Menatap ke depan
Menutup halaman kelam

Berlari sekencang awan
Tidur lelap di tengah keramaian
Menari di atas lelumutan
Berjalan di atas dedurian

Mimpi membujuknya
Melewati jalan tak diketahuinya
Menguatkan batinnya
Dari gelombang yang menerpanya

Matahari tak pernah melihatnya
Bulan tak pernah menyapanya
Lagi..

Karena ia
Penuh akan mimpi
Berdiri dengan kaki
Melihat dengan mata
Alam mengitarinya
Itu maunya

Tak peduli secuil kata mengehentikannya
Walau darah keluar bersama air mata
Mengalir mengikuti keringat
Bukan tembok penghalangnya

Tinggi menara Paris
Kuat menara negeri pizza
Indah Alhambra
Damai Belanda

Akan menjawab mimpinya

Magetan, 5 Januari 2019

Bulan Dandelion

Pangeran Bulanku
Kau lah itu
Yang selalu menyinari dengan tawamu
Begitu lembut meneduhkan hatiku
Wahai Pangeran Bulan
Tetaplah dengan bintang-bintangmu
Yang akan selalu menemanimu
Aku hanyalah dandelion
Yang hanya bisa memandangmu dari jauh
Yang selalu menikmati senyummu dari jauh
Amat jauh
Cahayamu redup samar melindungiku
Menjagaku disaat malam menyelimutiku
Disaat takut dan sendu menyergapku
Ya...
Sejauh itu hingga aku tak dapat menggapaimu
Hanya secuil harap kusematkan
Ketika angin membawaku terbang
Tinggi nan jauh
Hanya secuil angan
Bintang akan tetap disampingmu
Tuhan telah mengatur itu
Apabila suatu waktu dandelion ini dapat menemuimu
Dan hinggap padamu
Menetapmu padamu
Memang itulah takdir dandelion ku
Berdampingan dalam pelukan cahaya meneduhkanmu

Magetan, Saat ku teringatmu, 4 Januari 2019

Noeya

Rindu yang terkurung dalam kalbu Menahan untuk bertemu bukan soal ruang dan waktu rasa seorang yang membuatnya begitu panjang waktu...